Resume pengakuan keindahan

Nama                       : Kikih Jakiah Darojah
NIM                          : 1920.04.001
Prodi                        : Manajemen Pendidikan Islam
Mata Kuliah           : B.Arab Pendidikan
Dosen Pengampu  : Muzhir Ihsan, M.Pd

Resume Mata Kuliah Bahasa Arab Pendidikan

MATERI

الاعتـــراف بالجميل

كان الخليفة المنصور يتطّلع إلى الإحاطة بأمور الناس عموما, وإلى معرفة أحوال بني أمية خصوصا. فبلغه أن من مشايخ أهل الشّام, شيخا معروفا, وكان بطانة لهشام بن عبد الملك بن مروان. فأرسل إليه المنصور, وأحضره بين يديه, وسأله عن تدبير هشام في حروبه مع الخوارج. فوصف له الشيخ ما دبّر وقال:" فعل رحمه الله كذا وكذا". فقال له المنصور: "قم عنّي! تطأ بساطي وتترحّم على عدوّي!" فقال الرّجل وهو مولّ يريد الخروج: "إن نعمة عدوّك لقلادة في عنقي, لا ينزعها إلاّ غاسل". فلمّا سمعه المنصور قال: "ردّوه". فلمّا رجع قال: "يأمير المؤمنين, إن أكثر النّاس لؤما, من لم يجعل دعاءه لمن أحسن إليه, وثناءه عليه, وحمده لمعروفه عنده وفاء له, ولو أمكنني القدر, وأقدرني القضاء, على الوفاء لهشام بأكثر من ذلك, لوجدني أمير المؤمنين وافيا له به". فقال له المنصور: "ارجع يا شيخ إلى تمام حديثك". ثمّ أقبل المنصور على حديثه إلى أن فرغ, فدعا المنصور بمال وكسوة وقال: "خذ هذا صلة منّا لك". قأخذ ذلك وقال: "والله يا أمير المؤمنين مابي من حاجة. ولقد مات عنيّ من كنت في ذكره, فما أحوجني إلى وقوفي على باب أحد بعده. ولولا جلال أمير المؤمنين, ولزوم طاعته, وإيثار أمره, لما لبست نعمة أحد بعده". فقال المنصور: "لله أنت! لولم يكن لقومه غيرك, لكنت أبقيت لهم ذكرا مخلّدا, ومجدا باقيا, بوفائك لمن أحسن إليك".

Terjemahan

Pengakuan Keindahan

Dia adalah khalifah al manshur, menanti untuk mengetahui hal-hal orang pada umumnya, dan untuk mengetahui kondisi bani umayyah pada khususnya. Dia memberitahunya bahwa salah satu syekh dari orang-orang Levant, seorang syekh yang dikenal, itu adalah  Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan. Jadi dia mengirim Al-Mansur kepadanya, membawanya di tangannya, dan bertanya kepadanya tentang pengaturan Hicham dalam perangnya dengan orang-orang Khawarij.Kemudian Syekh menjelaskan kepadanya apa yang dia rencanakan dan katakan: "Dia memang Tuhan mengampuni ini dan itu. Al-Mansur berkata kepadanya: "Bangkitlah tentang aku! Tapak permadani dan perlihatkan belas kasihan kepada musuhku!" Lalu pria itu berkata, sementara dia ingin pergi, "Rahmat musuhmu adalah kalung di leherku yang hanya bisa dilepas oleh pita. "Ketika Al-Mansur mendengarnya, dia berkata, "Tanggapi dia." Ketika dia kembali, dia berkata: “Komandan orang-orang beriman, orang-orang yang paling kejam, siapa pun yang tidak melakukan permohonannya kepada orang yang telah mengalahkannya, memuji dia, dan memuji dia atas bantuannya untuk memenuhinya, dan jika nasib memungkinkan saya, dan pengadilan dapat membantu saya untuk memenuhi Hisyam lebih dari itu, jika Panglima Setia menganggapnya loyal kepada dia. ". Al-Mansur berkata kepadanya: "Kembalilah, Sheikh, untuk pidatonya. Kemudian Al-Mansur menerima pidatonya sampai selesai, jadi dia memanggil Al-Mansour dengan uang dan pakaian dan berkata: "Ambil tautan ini dari kami untuk Anda." Dia mengambilnya dan berkata: "Demi Tuhan, Panglima Setia, tidak perlu. Siapa pun yang saya ingat meninggal karena saya,Saya tidak perlu berdiri di pintu satu setelah dia  Tanpa keagungan Panglima Setia, kepatuhannya diperlukan, dan untuk mematuhinya,Dan untuk memberikan perintahnya, ketika seseorang memakai berkah untuknya. "Al-Mansur berkata: "Ya Tuhan! Dan jika bangsanya tidak memiliki siapa pun selain kamu, aku akan menyimpan kenangan abadi untuk mereka, dan kemuliaan akan tetap ada, dengan bertemu denganmu siapa pun yang baik kepadamu".

Nah, jadi, materi tersebut mengajarkan kita tentang kejujuran dan memaafkan. Lalu, bagaimanakah jujur dan memaafkan berdasarkan hasil diskusi kita pada pertemuan perkuliahan hari Kamis tanggal 15 April 2020 di rumah kita masing masing. 😁


JUJUR & MEMAAFKAN

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan teladan sempurna untuk kita. Beliau memiliki akhlak atau sifat yang begitu mulia. Beberapa sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam antara lain pemaaf dan jujur. Nabi Muhammad dikenal sebagai pribadi yang pemaaf dan  jujur, bahkan sejak beliau belum diangkat menjadi nabi.

1. Jujur


A. Pengertian Jujur
Jujur, dalam Bahasa Arab dikenal dengan istilah ash shidqu atau shiddiq, memiliki arti nyata atau berkata benar. Artinya, kejujuran merupakan bentuk kesesuaian antara ucapan dan perbuatan atau antara informasi dan kenyataan. Lebih jauh lagi, kejujuran berarti bebas dari kecurangan, mengikuti aturan yang berlaku dan kelurusan hati. 
Sikap jujur merupakan apa yang keluar dari dalam hati nurani setiap manusia dan bukan merupakan apa yang keluar dari hasil pemikiran yang melibatkan otak dan hawa nafsu.

Kepada siapakah kita jujur?
  • Jujur Kepada Allah
Jujur kepada Allah itu kita melakukan perbuatan ibadah yang ikhlas kepada Allah tanpa ada unsur riya’,semua perbuatan yang kita lakukan semata – mata hanya untuk Allah untuk mencapai keridhoannya, selanjutnya melakukan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya, dan berkata tanpa berdusta itu sudah termasuk sifat jujur kepada Allah.
  • Jujur Kepada Diri Sendiri
Jujur kepada diri sendiri yaitu menghilangkan segala bentuk penolakan yang membuat kita jauh pada kebenaran mengenai diri kita, tidak membohongi diri sendiri,tidak memaksakan diri kita untuk melakukan sesuatu.
  • Jujur Kepada Orang Lain
Memberi kesaksian yang benar apabila diminta pengadilan. Misalnya, jika memberi kabar berita sesuai dengan kenyataan , jangan ada modifikasi hanya untuk menyenangkan hati orang. Sudah sepatutnya kita berkata jujur walau pahit.

B. Macam-macam jujur
Berbicara kejujuran (dalam bahasa arab disebut sebagai Ash-Shidqun), kejujuran terbagi menjadi 5 macam, yaitu:

1. Shidq Al-Qalbi (jujur dalam berniat).
Hati adalah poros anggota badan. Hati adalah barometer kehidupan. Hati adalah sumber dari seluruh gerak langkah manusia. Jika hatinya bersih, maka seluruh perilakunya akan mendatangkan manfaat. Tapi jika hatinya keruh, maka seluruh perilakunya akan mendatangkan bencana. 

2. Shidq Al-Hadits (jujur saat berucap).
Jujur saat berkata adalah harga yang begitu mahal untuk mencapai kepercayaan orang lain. Orang yang dalam hidupnya selalu berkata jujur, maka dirinya akan dipercaya seumur hidup. Tetapi sebaliknya, jika sekali dusta, maka tak akan ada orang yang percaya padanya. Orang yang selalu berkata jujur, bukan hanya akan dihormati oleh manusia, tetapi juga akan dihormati oleh Allah Swt. 

3. Shidq Al-’Amal (jujur kala berbuat). 
Amal adalah hal terpenting untuk meraih posisi yang paling mulia di surga. Oleh karena itu, kita harus selalu mengikhlaskan setiap amal yang kita lakukan. Dalam berdakwah pun, kita harus menyesuaikan antara ungkapan yang kita sampaikan kepada umat dengan amal yang kita perbuat. Jangan sampai yang kita sampaikan kepada umat tidak sesuai dengan amal yang kita lakukan sebab Allah Swt. sangat membenci orang-orang yang banyak berbicara tetapi sedikit beramal. 

4. Shidq Al-Wa’d (jujur bila berjanji).
Janji membuat diri kita selalu berharap. Janji yang benar membuat kita bahagia. Janji palsu membuat kita selalu was-was. Maka janganlah memperbanyak janji (namun tidak ditepati) karena Allah Swt. sangat membenci orang-orang yang selalu mengingkari janji.

5. Shidq Al-Haal (jujur dalam kenyataan).
Orang mukmin hidupnya selalu berada di atas kenyataan. Dia tidak akan menampilkan sesuatu yang bukan dirinya. Dia tidak pernah memaksa orang lain untuk masuk ke dalam jiwanya. Dengan kata lain, seorang mukmin tidak hidup berada di bawah bayang-bayang orang lain. Artinya, kita harus hidup sesuai dengan keadaan diri kita sendiri. 

C. Bolehkah berbohong untuk kebaikan?
Dusta atau bohong adalah perbuatan haram. Tidak ada keringanan untuk berdusta dalam Islam, kecuali karena darurat atau kebutuhan yang mendesak. Itu pun dengan batas yang sangat sempit. Seperti tidak dijumpai lagi cara yang lain untuk mewujudkan tujuan yang baik itu, selain harus bohong.
Ada satu cara yang mirip dengan dusta tapi bukan dusta. Dalam kondisi ‘kepepet’, seseorang bisa menggunakan cara ini untuk mewujudkan keinginannya tanpa harus terjerumus ke jurang kedustaan. Cara itu, bernama  ma’aridh atau tauriyah. Bentuknya, seseorang menggunakan kata yang ambigu, dengan harapan agar dipahami lain oleh lawan bicara.
Dalam keterangan dari Syarh Sunnah Al-Baghawi.
Meriwayatkan:
ولم أسمعه يرخص في شيء مما يقول الناس إلا في ثلاث: تعني الحرب، والإصلاح بين الناس، وحديث الرجل امرأته، وحديث المرأة زوجها.
“Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal: Ketika perang, dalam rangka mendamaikan antar-sesama, dan suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya (jika untuk kebaikan).” (HR. Muslim)

Jadi,kebohongan yang diperbolehkan yaitu ada 3 macam :

1. pertama, dalam kondisi al-harb (perang) misalnya dibutuhkan strategi yang kuat untuk mengalahkan lawan, yang tidak mungkin disampaikan secara terang-terangan kepada pihak lawan.

2. Kedua, berbohong untuk mendamaikan dua pihak yang bertikai dengan cara yang baik pula. Misalnya pihak ketiga (yang mendamaikan) memberikan hadiah kepada ke dua belah pihak yang diatasnamakan pihak yang bertikai. Atau menyampaikan salam berupa pujian kepada keduanya.

3. ketiga, yaitu bohongnya suami kepada istri atau sebaliknya dengan tujuan untuk menampakkan rasa sayang berupa pujian atau gombalan, atau berjanji yang tidak wajib.

2. Maaf


Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Quran menjelaskan: Kata maaf berasal dari bahasa Al-Quran alafwu yang berarti “menghapus”, yaitu yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu didalam hati, bila masih ada dendam yang membara. Boleh jadi, ketika itu apa yang dilakukan masih dalam tahap “masih menahan amarah”. Usahakanlah untuk menghilangkan noda-noda itu, sebab dengan begitu kita baru boleh dikatakan telah memaafkan orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di dalam ayat:
خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَـٰهِلِينَ
Artinya: ”Jadilah engkau pemaaf dan serulah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf (baik) dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Q.S. Al-A’r. af [7]: 199).

Ketika turun ayat tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun bertanya kepada Malaikat Jibril, ”Apakah maksud ayat ini, wahai Jibril?” Jibril menjawab, ”Sesungguhnya Allah menyuruhmu memaafkan orang yang telah menzalimimu, dan bersilaturahim terhadap orang yang memutuskan hubungan denganmu.”

Agar kita mudah memaafkan orang lain adalah dengan tidak selalu memikirkan kesalahannya kepada kita, melainkan kita juga harus sesekali memikirkan kebaikan yang pernah dia lakukan kepada kita walaupun hanya satu kali. Memaafkan lahir dan batin memang sulit untuk di lakukan bagi seorang manusia normal yang sudah tersakiti hatinya, oleh sebab itu Allah Swt mengistimewakan orang – orang  yang memaafkan secara lahir dan batin dengan derajat yg paling mulia di sisi Allah Swt. Karena memaafkan adalah perbuatan yang berat untuk dilakukan.
Dalam Islam, mampu memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa (muttaqin). Allah berfirman :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali ‘Imran : 134).

Yang perlu kita ingat bahwa meminta maaf tidak lantas membuat kita hina, dan memaafkan seseorang yang telah menyakiti kita adalah perbuatan yang mulia.

Mungkin cukup sekian Yang dapat disampaikan, mohon maaf apabila ada kesalahan semoga ada manfaatnya untuk kita semua.

Komentar